Sunday, July 12, 2009
at
2:38 PM
|

Saat ini, penggunaan Facebook dan yahoo messenger mulai menjamur. Bisa dikatakan kedua aplikasi itu merupakan salah satu dari aplikasi yang paling banyak dibuka ketika kita terkoneksi dengan internet. Kedua aplikasi itu menyediakan suatu fitur yaitu status yang digunakan untuk aktualisasi diri. Fitur status memberikan tentang keadaan yang sedang kita alami serta memudahkan irang lain untuk mengakses informasi. Apalagi untuk orang penting dan sibuk, informasi tentang status mereka sangatlah diperlukan. Di dalam perkantoran, biasanya informasi status suatu pejabat ditempelkan di samping pintu masuk. Tetapi sayangnya, walaupun banyak alat-alat canggih yang sudah beredar, kebanyakan perkantoran masih menggunakan alat yang konvensional dan bahkan ada juga yang belum menggunakannya. Dengan hadirnya alat ini, elektronik status, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan perkantoran atau bidang lain yang memungkinkan diterapkannya alat ini.
Self actualization atau aktualisasi diri, saat ini sedang menjadi suatu hal yang marak diminati banyak orang. Tak ayal jika tidak sedikit orang yang bergelut di dalamnya, entah itu di dunia nyata dengan mengaktualisasi dirinya pada sebuah tulisan di dinding, pintu kamar, atau media lainnya maupun dengan aktif di dunia maya seperti mengikuti jejaring sosial facebook, plurk, friensdster, atau hal-hal yang berbau blogging, dan lain-lain.
Tak hanya itu, aktualisasi diri juga sering digunakan untuk suatu benda, tempat, dengan objek media yang tidak hanya manusia saja. Seperti saat ini terlihat sangat dibutuhkannya informasi di tempat-tempat umum seperti pada terminal, stasiun, bandara, warnet, swalayan, dan lain-lain. Kemudahan dalam information access (akses informasi) itulah yang sangat dibutuhkan oleh para cutomer yang berada di tempat tersebut.
Hal ini tentu saja akan memberatkan jika tidak terdapat suatu alat yang dapat mengakomodasi itu semua. Tentunya alat konvensional tidak cuup untuk menangani itu semua. Oleh karena itu dibuatlah sebuah alat yang diberi nama e-Status, yang merupakan kepanjangan dari Electronic Status. Alat ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan setiap orang untuk mengaktualisasi diri maupun objek-objek tertentu terutama di dunia nyata.
Electronic Status adalah alat yang dapat memberikan informasi tentang status seseorang yang ditampilkan ke dalam alat display yaitu berupa lcd yang pengendaliannya dilakukan oleh suatu progam aplikasi (software) dalam computer. Alat ini dilengkapi dengan software (perangkat lunak) yang dapat memudahkan user (pengguna) dalam meng-upload status atau informasi yang ter-update, baik untuk dirinya sendiri ataupun objek lain yang dapat di-share, dibagikan, dan diinformasikan melalui display unit, yaitu LCD. Dengan hadirnya alat ini, elektronik status, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan perkantoran atau bidang lain yang memungkinkan diterapkannya alat ini.
Monday, February 23, 2009
at
12:48 PM
|
 Pedas-manisnya dengan tegas terasa ketika tugas matkul IRES (instalasi dan residensial) ini selesai. Puas diselimuti haru kian memuncak ketika hasilnya mendapat nilai A (memang hampir semua dapet nilai A...he..).
 Tapi memang benar-benar mengesankan kala itu diingat. Ga cukup waktu, dan ga donk babar blas!!!... ketika itu. Dan walnya saya tidak yakin apakah saya akan mampu mengerjakan tugas 3d ini menggunakan 3ds max. Bahkan saya pesimis kalau memakai 3ds max akan selesai tepat waktu. Tapi berhubung uda selesai, yawda ‘n terima kasih untuk semua yang telah ikut membantu saya menyelesaikan tugas ini.
Saturday, December 27, 2008
at
11:09 AM
|
Tak lama setelah UU BHP diluncurkan, mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini menggelar aksi yang katanya mau “membela kebenaran dan keadilan”. (Wuihh... kayak ksatria baja hitam aja..) Atau ada yang bilang “biar mereka (pemerintah) tau kalo kita ni masih ada”, maksudnya biar kita ni dilihat orang gitu.. (kok jadi pamer ya..).
Entah apa niat mereka, mungkin awalnya mereka berniat baik. (tapi cuma mungkin lho! inget). Katanya biar kampus gak jadi tempat komersialisasi pendidikan atau biar gak temen-teman kita yang sebenarnya pintar jadi gak bisa sekolah alias sekolah gak hanya untuk orang berduit aja. Yah..memang hampir seluruh demonstran gak yang sekarang ataupun yang dulu “katanya” mereka berniat baik, yaitu mengingkari kemungkaran, membela rakyat kecil, menasihati pemerintah agar berlaku adil, dan lain-lain. Tapi benarkah itu terjadi??
Memang belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa ”demonstrasi” adalah bagian dari amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan. Namun apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh pemujanya sebagai metode amar ma’ruf nahi munkar ataukah sesuatu yang harus diluruskan? Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label bagus Apakah seseorang dapat menerima saranmu dengan baik jika engkau jelek-jelekkan serta kau umbar aibnya di depan umum? Bagaimana jika kejengkelan hatinya telah mendahului nasihatmu? Memang saling menasihati itu merupakan keharusan bagi kita. Namun tidaklah nasihat tersebut disampaikan kecuali dengan cara yang baik, tidak dengan membuka aib penguasa. Melecehkan kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan engkau temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.
Apalagi yang akhir-akhir ini terjadi, semakin gencar, agresif, dan anarki-nya demo yang dilancarkan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia berkaitan dengan UU BHP. Hal ini sangat disayangkan tentunya. Mengingat generasi muda merupakan “agent of change”, kok malah gampang sekali terbawa arus. Tidak memiliki pendirian, prinsip, dan terlihat hanya ikut-ikutan saja.
Tidakkah mereka berpikir, berapa banyak kerugian yang akan diderita baik bagi diri mereka sendiri atau orang lain. Kemacetan, kerusakkan fasilitas-fasilitas umum (yang mungkin juga dibangun dengan uang pajak dari rakyat juga -sama aja tu ambil uang rakyat bukan?-), pertumpahan darah, kemacetan, kerusakkan lingkungan (baik dari lempar batu sampai bakar-bakaran ban -yang asapnya baunya gak karuan-). Tentunya hal ini membuat masyarakat memandang bahwa mahasiswa sekarang hanya menggunakan emosi dan ototnya aja. Tidak lagi menggunakan akalnya lagi dalam bertindak. (jangan gunain akal cuma tuk ngakalin orang aja donk).
Kalau kita perhatikan dengan seksama tentunya dapat kita peroleh kesimpulan bahwasanya pemberontakan atau usaha untuk menurunkan penguasa yang sah tidaklah menghasilkan kecuali kekacauan, kerusuhan, pertumpahan darah serta hari-hari yang dicekam oleh ketakutan. Oleh karena itu, benarlah petunjuk agama ini yang melarang pemberontakan karena ini hanya akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.
Tuesday, October 7, 2008
at
10:45 AM
|
Oleh : Abu Tilmidz
Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَتَمُورُ
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).
Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).
Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.
Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.
Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.
Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?
Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″
Allah Maha Besar.
Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.
Wallahu a’lam bish shawab.
http://abasalma.wordpress.com/2007/12/01/desa-yang-musnah-di-daerah-dieng/
Posted by
d'ParNozt
Labels:
artikel menarik
Monday, June 23, 2008
at
2:37 PM
|
Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) ibarat dua keeping sisi dari sekeping mata uang. Tak pernah akur/ sepaham. Bagaimana tidak, selama ini konsep HAM yang didengung-dengungkan mengadopsi mentah-mentah konsepsi Barat, yang diakui atau tidak, malahan menempatkan Islam sebagai musuh HAM. Ketidakakuran konsep ini dikarenakan acuan HAM, dalam konsepsi barat berangkat dari pemahaman yang bertentangan dengan syariat, di samping tentu saja kebencian terhdap Islam itu sendiri. Sebagai misal, kebebasan yang menjadi nilai dasar HAM dalam perspektif Barat adalah kebebasan dalam arti yang seluas-luasnya. Pornografi dan pornoaksi, menghujat Islam dalam bentuk karikatur maupun film, adalah contoh kebebasan berekspresi yang menantang Islam. Sebaliknya, kewanitaan dalam Islam, adalah isu-isu lama yang terus diusung para “pendakwah” HAM ala Barat. Berbekal ilmu agama yang nyaris nihil plus intepretasi menyimpang, Islam divonis oleh mereka sebagai ajaran yang member perlakuan diskriminatif terhadap kaum wanitanya. Citra ini demikian kokoh bercokol dalam benak orang-orang yang memang senantiasa mengambil paradigm serba Barat. Padahal kalau para pengekor HAM Barat ini mau berkaca, dalam tataran praktik, penerapan HAM mereka sendiri malah menganut standar ganda. Pembantaian muslim Palestina oleh Yahudi adalah cermin nyata kemunafikan Barat soal HAM. Amerika Serikat (AS), yang selama ini didewa-dewakan sebagai penegak HAM bungkam manakala yang menjadi korban HAM adalah umat Islam. Kemunafikan HAM ini pun bisa kita saksikan di Indonesia. Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Semanggi I dan II dibesar-besarkan serta didramatisir seakan-akan sedemikian mengerikan. Malah, dalam kerusuhan Mei, ditiupkan gosip adanya pemerkosaan missal terhadap etnis China yang dilakukan oleh orang-orang Islam. Sementara kerusuhan Maluku dan Poso dengan skala yang nyata lebih luas yang korbannya umat Islam, hanya dipandang sebelah mata. Jangankan proses hokum terhadap actor intelektuanya, teriakkan HAM untuk kasus Maluku/Poso pun nyaris tak terdengar. Barat pun baru menggonggong soal HAM setelah para perusuh Kristen mulai terdesak. Yang aktual adalah soal Ahmadiyah. Sejumlah tokoh dengan mengatasnamakan HAM ramai-ramai membela aliran sesat & kafir ini. Menjadi ganjil karena perasaan umat Islammalah diabaikan dalam kasus ini. Yang nampak, banyak pihak yang memang bersuka cita dengan makin terpecah belahnya Islam. Tentu lain cerita jika yang disempali adalah agama lain. Sebagai contoh pasukan federal AS tahun 1993 pernah membakar markas sekte ranting Daud di Waco, Texas, yang dipimpin Vernon Howell (David Koresh) hingga menewaskan puluhan orang. Pelanggaran HAM? Jelas bukan. Daftar salah kaprah penerapan HAM ini tentu masih banyak. Tindakan barbar AS dan sekutunya yang menyerang Irak dan Afghanistan, intervensi dan eksploitasi terhadap negara-negara berkembang (yang sebagiannya negara-negara berpenduduk mayoritas muslim) tentu kecil kemungkinan masuk dalam definisi pelanggaran HAM. Kesimpulannya, Hak Asasi Manusia (HAM) sesungguhnya bentuk lain dari imperialism Barat, yakni upaya Barat untuk memeksakan nilai-nilai mereka dalam rangka memberangus syariat Islam. HAM sejatinya tidak menyoal nilai-nilai kemanusiaan yang universal yang sebenarnya nilai-nilai itu telah lengkap dalam ajaran Islam, namun lebih bergantung pada seleradan kemauan Barat. Penjajahan Gaya Baru? Pasti.
Posted by
d'ParNozt
Labels:
opini
|
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum
|